Selasa, 11 Maret 2008

CILACAP INSIDE

Menyelamatkan “Gunung Sengkala”
Oleh : Roedjito el Fateh*)
Siapa yang tidak kenal Gunung Merapi (?). Tahun 2006-2007 boleh dibilang menjadi tahunnya Gunung Merapi. Sedemikian terkenal. Bahkan Mbah Maridjan, sang juru kunci terpaksa ‘turun gunung’. Kesibukannya kian bertambah bak artis negeri yang tengah mendulang sukses. Sibuk syuting, foto bareng penggemar dan (mungkin) tanda tangan. Saat seperti itu bisa jadi Mbah Maridjan ingat onen-onen jawa, “kere munggah mbale” dan beliau tengah merasakannya. Orang biasa yang tengah naik strata.
Karena ‘geger’ merapi telah usai, saya ingin perkenalkan Gunung Sengkala (GS) pada pembaca. Secara geografis, GS –akronim ini sama dengan lokalisasi di Baturraden, Banyumas- berada pada wilayah hutan Kabupaten Banyumas. Kalau tidak salah, KPH Banyumas Barat istilahnya. Hanya sekedar menekankan. Kata ‘gunung’ sebenarnya bahasa jawa yang berarti pegunungan dalam bahasa Indonesia. Jadi bukan gunung berapi, melainkan tanah pe-gunung –an berisi hutan belantara.
Seperti ghalibnya wilayah hutan milik Perhutani lainnya. GS merupakan wilayah hutan pinus yang potensial. Selain pinus, puluhan bahkan ratusan pohon jati juga bisa ditemukan disana. Keberadaan hutan pinus bahkan telah membantu perekonomian warga sekitarnya. Letak GS sendiri sebenarnya perbatasan antara Banyumas dan Cilacap. Sehingga, tidak hanya warga Banyumas yang menjadi ‘mitra’ Perhutani tetapi juga warga Cilacap. Dua desa yang turut menimba hasil dari wilayah hutan GS adalah, desa Tayem Timur, Kecamatan Karangpucung (Cilacap) dan desa Dermaji, Kecamatan Lumbir (Banyumas).
Memprihatinkan
Jarak antara pemukiman warga dua desa dengan GS (lokasi gunung sengkala yang dimaksud) memang cukup jauh. Yang pasti sampai puluhan kilometer sekaligus melalui jalan tikus diantara rimbunan pohon pinus. Sehingga, sangat jarang lokasi GS tersebut dijamah manusia, termasuk warga sekitar sekalipun. Karena untuk menyadap getah pinus, mereka cukup berjalan paling lama 1 jam. Tidak disekitar GS, tetapi masih wilayah hutan GS.
Kabar –tepatnya anggapan- bahwa GS adalah hutan pinus dan gudang kekayaan kayu jati, tampaknya mulai terkikis. Hutan yang dulu berkesan segar dan hijau, kini terlihat kerontang dan meranggas. Kalau tidak percaya, lihatlah saat kemarau panjang (!). Setidaknya, bagi mereka yang sering melintas jalur Wangon (Banyumas)-Lumbir-Karangpucung (Cilacap) pasti akan membenarkan anggapan tersebut. Karena hutan yang meranggas itu, akan mengiringi perjalanan dari sekitar Lumbir hingga perbatasan (wates) Cilacap-Banyumas.
Hal itu diperparah dengan ‘musibah’ kebakaran hutan diakhir musim kemarau tahun 2007 silam. Selain pengakuan warga sekitar, kondisi memprihatinkan itu juga dibenarkan mandor hutan. “Ya. Memang kami akui, hutan GS mengalami kerusakan cukup parah. Bahkan mungkin terparah (di wilayah KPH Banyumas Barat, pen),” ini adalah pengakuan ekslkusif dari mandor grassroot.
Garapan Liar
Diduga, gersangnya wilayah GS akibat kebijakan pemerintah melalui Perhutani yang diinterpretasikan berbeda oleh warga. Sebelumnya, Perhutani menjalin kemitraan (bersama) dengan warga (yang diwadahi Lembaga Masyarakat Desa Hutan/LMDH) membuka 10 Ha lahan untuk diberdayakan. Dimana, pada lahan seluas itu masih ada tunas pohon jati yang diharapkan tetap hidup. Singkatnya, masyarakat sebagai mitra Perhutani menggarap lahan dengan tetap menjaga tunas pohon jati yang ada. Warga sekitar lebih mengenalnya dengan program trubus.
Trubus (jawa) berarti tunas kecil. Tetapi sayangnya, praktek dilapangan berbicara lain. Beberapa warga bahkan membuka lahan sendiri dan melakukan penebangan secara liar. Meski tidak dilakukan secara besar-besaran, tetap saja sedikit-demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Lahan garapan menjadi melebar. Jauh melebihi program awal yang hanya 10 Ha. Dan pada saat yang sama, petugas (mandor hutan) di lokasi tersebut hanya bisa gigit jari. Tidak mampu –bukan tidak bisa- melakukan tindakan antisipasi lebih.
PHBM Sebagai Pendekatan
Bukanlah hal mudah sekaligus tidak bijaksana, kalau harus mencari-cari kambing hitam atas kerusakan di wilayah hutan GS tersebut. Terlebih lagi, luas garapan liar diperkirakan melebihi luas tanah yang diprogramkan pemerintah. Barang kali benar apa yang dingkapkan Ali Sairan, seorang tokoh desa Tayem Timur, “terjadi miss komunikasi antara Dishutbun dan Perhutani,” katanya. Pasalnya, satu sisi Dishutbun tidak kurang mencanangkan reboisasi sekaligus memberikan bantuan bibit baru untuk menyelematkan hutan dan pegunungan. Sedangkan disisi lain, langkah pengamanan untuk ‘menjaga’ program penghijauan itu kurang maksimal dilakukan Perhutani.
Problem garapan liar, tampaknya menjadi fenomena umum di Indonesia. Tidak keliru kiranya, ketika mencoba langkah yang ditempuh KPH Banyumas Timur, untuk menyelamatkan kawasan hutan di Purbalingga. Yakni dengan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Langkah pertama yang dilancarkan adalah melakukan pendekatan kepada masyarakat. Diteruskan dengan pembinaan secara intensif melalui LMDH.
Sehingga masyarakat bisa memahami, bahayanya garapan liar. Terlebih karena masyarakat menanami kawasan hutan dengan tanaman sayur mayur atau non argoforestry. Kemudian meneruskan dengan kebijakan untuk menanam dengan model argoforestry, yakni menanam tanaman yang hasilnya bisa dinikmati tanpa harus menebang pohon. Dari sinilah, Perhutani bisa menjalankan reboisasi dengan dukungan pemahaman dari masyarakat. Misalnya menanam pinus, damar dan sebagainya.
Mitos
Dalam bahasa jawa, Sengkala berarti mara bahaya, halangan atau rintangan. Sebutan gunung sengkala, konon karena kawasan tersebut merupakan wilayah rawan, terutama di jalan raya. Gudangnya pelaku kriminal, begal, rampok, bajing loncat dan sejenisnya. Keberadaan GS menjadi ancaman tersendiri bagi para pengguna jalan, khsusnya saat malam hari. Maklum, dulunya kawasan tersebut jalur rawan sebagaimana alas roban.
Meski kini relatif aman dari tindak kriminal, GS tetap saja bisa menebar ‘acaman’. Setidaknya, kalau kawasan hutan di sana dibiarkan terus digarap liar, gundul, kering dan meranggas. Salah satu dampak yang kini dirasakan adalah berkurangnya pasokan air pegunungan, khususnya saat kemarau. Hal ini mengingat beberapa warga –baik Tayem timur ataupun Dermaji- membuat penampungan langsung dari mata air di sekitar kawasan GS. Selain itu, bahaya tanah longsor bisa juga bukan hanya isapan jempol. Karena, kawasan GS adalah kawasan tanah pegunungan.
Satu keyakinan, ketika pemerintah melalui instansi terkait bertekad dan bertindak cepat tentu akan menjai harapan gemilang tersendiri. Setidaknya, bagi keselamatan ekosistem kawasan hutan sebagai paru-paru dunia. Tentu tidak ketinggalan peran aktif dan kesadaran tinggi dari masyarakat sekitar untuk ikut menjaga kawasan tersebut. Bukan hanya menjadi ‘penjarah’ dan ‘cukong kecil’ yang hanya bisa mengambil manfaat tanpa usaha menjaga dan melestarikannya.
*) Penulis mahasiswa Komunikasi (Dakwah) STAIN Purwokerto

CILACAP INSIDE

Satu Setengah Abad Cilacap
(Sebuah Refleksi)
Oleh : Roedjito el Fateh*

Bulan Maret 2008, boleh jadi memiliki catatan tersendiri bagi Kabupaten Cilacap. Kabupaten paling ‘bontot’ di bagian selatan-barat provinsi Jawa Tengah ini genap berusia 152 tahun. Tidak berlebihan juga, tatkala moment satu setengah abad Kabupaten berslogan ‘Bercahaya’ ini dijadikan media untuk sekedar muhasabah (melihat diri), interospeksi diri.
Koreski diri. Satu langkah wajar yang biasa dilakukan mereka yang merayakan ulang tahun. Komitmen yang ditanamkan pada diripun selalu sama. Bertekad untuk lebih baik kedepan. Untuk lebih baik itu, tentu tidak enggan belajar dari masa lalu (past time) dan sekarang (at present).
Seperti pepatah Arab yang populer dalam ormas terbesar, Nahdlatul ‘Ulama (NU). “Al mukhafadzah ‘alal qadimi as sholih, wal akhdzu bi al jadidi al ashlah”. Dengan terjemah bebas; mempertahankan hal (kebiasaan) terdahulu yang baik dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik. Tidak berlebihan ketika Pemkab Cilacap menerapkan hal itu dalam mengambil kebijakan menyangkut kesejahteraan masyarakat.
Dalam rangka menyambut dan merayakan HUT ke 152 ini, belasan mata lomba digelar, berbagai acara seremoni dihelat, sekaligus agenda spiritual (seperti doa dan istima’il qur’an) juga diagendakan. Dari beberapa lomba yang digelar rutin saat HUT Cilacap, ada tiga perlombaan yang berskala nasional; lomba pacuan kuda, lomba tenis yunior, dan lomba perahu naga. Selain pasti ramai, dana yang disiapkan juga pasti banyak. Tembus ratusan juta ! (mungkin tidak luar biasa).

Korupsi
Tekad untuk lebih baik, tentu dibarengi ‘keberanian’ mengungkap kelam masa lalu. Masih begitu segar dalam ingatan masyarakat Cilacap. Diakhir tahun 2007, data dari KP2KKN Provinsi Jateng, menobatkan Cilacap sebagai kabupaten/kota terkorup kedua se Jateng. Meski sebatas dugaan, data itu cukup mencengangkan. Terutama bagi masyarakat kecil yang tidak terlalu melek (peduli) adanya penyelewengan.
Memasuki tahun 2008, Cilacap kembali digoyang pemberitaan yang sama. Adalah Parlement Watch Cilacap (PWC) yang giliran membuat ‘ulah’. LSM ini mengaku telah melaporkan dugaan kasus korupsi di Cilacap, ke ‘pawangnya’ para koruptor, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Perang opini di media antara PWC dan DPRD kabupaten Cilacap terkesan memanas. Tetapi sayang, tidak ada titik temu yang berorientasi demi perbaikan Cilacap antara kedua kubu. Keduanya ngotot memamerkan superioritasnya. Dewan merasa menjadi pihak yang wajib dilapori dan (ngakunya) akan menindaklanjuti laporan itu. Sementara, PWC mengaku membuka pintu lebar untuk siapapun untuk konfirmasi, termasuk anggota dewan tetapi enggan untuk sowan ke DPRD.
Yang lebih memprihatinkan, geger dugaan kasus korupsi itu hanya numpang lewat. Cilacap seolah menjadi zona aman, meski menjadi terkorup kedua dan katanya sudah dilaporkank ke KPK. Setidaknya, hingga perayaan HUT ke 152 ini, tidak satupun pejabat yang terbukti benar terjerat kasus korupsi.
Geger Cilacap sarang koruptor, tentu akan lebih baik bila berbanding lurus dengan tindakan realistis. Mudah-mudahan geger itu diniatkan sebagai shock teraphy bagi masyarakat Cilacap. Sampai saatnya, mereka benar-benar siap menerima kenyataan kalau ada pejabat Cilacap yang terjerat korupsi. Ternyata yang selama ini mereka percaya hanya ‘srigala berbulu domba’.

Kesehatan Birokrasi
Dugaan kasus korupsi sedikit-banyak memantik kinerja aparatur pemerintahan. Terkhusus bupati Cilacap, tampaknya musti berjuang keras. Perlu diingat, bahwa gelar kabupaten/kota terkorup itu muncul beberapa bulan usai bupati terpilih dilantik untuk kali kedua. Artinya, ‘gelar’ itu tentu merupakn ‘hasil kinerja’ bupati terpilih pada periode sebelumnya (2002-2007). Terlebih, Kejaksaan Tinggi Semarang mulai ‘turba’ ke daerah. Hasilnya, bupati Kendal dan Purworejo misalnya menjadi ‘oleh-oleh turba’ itu.
Tidak sehatnya birokrasi, sangat berperan bagi maraknya tindak korupsi. Bupati terpilih sebenarnya hanya perlu membuktikan bahwa birokrasi yang dipimpinya sehat. Kesehatan birokrasi sendiri, tidak bisa lepas dari budaya kritik. Budaya kritik itulah yang kurang berjalan di Cilacap.
Alih-alih melalukan perombakan (penyehatan) birokrasi dan terobosan baru, kebijakan pemkab malah kian jauh dari kepentingan masyarakat. Sejak dilantik untuk kali kedua, lebih dari tiga kali mutasi jabatan dilakukan bupati terpilih. Diteruskan dengan kebijakan kontroversional; (rencana) pemotongan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk program Sistem Manajemen Pemerintahan Desa (Simpemdes).
Kenyataan menunjukan lain. Terlihat kentara ketidakdewasaan bupati dalam beberapa kali mutasi. Bukan pada arah perbaikan atau penyegaran birokrasi. Melainkan konsekuensi atas janji politik saat Pilkada lalu. Yakni janji akan memberikan ‘post’ yang lebih nyaman kepada perangkat yang ‘konsisten’.
Lantas ADD. Perangkat desa masih ingat betul. Bupati terpilih pernah menyuarakan bahwa ADD akan dinaikan menjadi 200 juta, saat kampanye lalu. Inilah yang membuat kebijakan proyek baru Simpemdes ditentang. Lebih dari itu, e-Gov yang diibaratkan ‘ibunya’ Simpemdes juga masih terlunta-lunta. Tampaknya, meski anjing mengonggong kafilah tetap berlalu. Show must go on. Bupati terpilih mungkin lupa, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Ragam Bencana
Selain bobroknya birokrasi, bencana alam juga selalu siap siaga mengintai Cilacap. Bahkan jauh lebih siap dari persiapan pemkab mengantisipasinya. Dimulai dari tsunami, tanah longsor dan bencana banjir.
Ingar-bingar HUT Cilacap ini terasa begitu kontradiktif dengan musibah itu. Kemarin baru saja banjir bandang menerjang wilayah Kroya, Sidareja, Cipari. Bahaya longsor mengintai sedikitnya delapan wilayah di Cilacap bagian barat. Kini, ratusan juta dihamburkan untuk merayakan ulang tahun satu setengah abad itu.
Padahal dalam beberapa kali musibah, korban bencana selalu mengeluhkan kurang tanggapnya pemkab memberikan penanganan. Musibah banjir misalnya. Bencana alam rutinan itu tetap saja tidak mendapat perhatian serius dari pemkab. Hasilnya, musibah rutin itu selalu menjadi maslah super serius yang dihadapi dengan gagap.

Pemekaran
Carut marut birokrasi berimbas terhadap kurang maskimalnya pelayanan pada masyarakat. Untuk tidak menyebut, pemerintah mengabaikan rakyat. Kesimpulan ini, finish. Entah disepakati atau tidak. Akibatnya, beberapa tokoh muda Cilacap Barat menyuarakan wacana, bahkan sudah memulai rencana pemekaran. Beberapa langkah dirajut. Dari study banding, study kelayakan sampai mendapat acc dari DPRD.
Sayangnya, setelah digemborkan hampir dua tahun, pemekaran masih tidak lebih dari wacana belaka. Hal ini mendorong beberapa warga terus bertanya. Kapan sebenarnya pemekaran itu direalisasikan ? Yang lebih parah lagi, isu pemekaran dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk kepentingan pribadinya (mayoritas kepentingan politik). Tidak kalah lucu, beberapa anggota dewan dari Cilacap Barat mendadak muncul dan lantang (ikut) menyuarakan. Lantas kemana mereka selama ini ? Kenapa menghilang saat rakyat yang mereka wakili menjerit ?
Padahal secara logis pemekaran itu menjadi barang mustahil. Pertama, karena menteri dalam negeri yang kebetulan mantan Gubernur Jateng memutuskan untuk tidak melakukan atau mengesahkan usulan pemekaran di tahun 2008 ini. Kedua. Kurangnya respon dari pemkab. Bupati terpilih dalam sebuah kesempatan kampanye menyebutkan, pemekaran itu baik dan mudah. Tetapi perlu belajar dulu. Makanya, saat ini beliau menggandeng Toto Suwarto seorang pengusaha dari Cilacap Barat sebagai wakilnya. Ini bisa berarti, selama periode ini Cilacap Barat hanya berkesempatan ‘latihan’ dulu.

Budaya Kritik
Masyarakat bukan berarti menutup mata adanya beberapa kemajuan (meski tidak terlalu meyakininya). Hanya saja, membudayakan kritik lebih diyakini bisa meningkatkan kinerja dan kemajuan riil yang komperehensif. Tentu budaya kritik yang sehat. Masyarakat baik pribadi maupun melalui wakilnya, melancarkan kritik dan diterima dengan terbuka oleh pemkab.
Beberapa pihak berkompeten juga diharapkan melakukan kritik membangun tanpa tendensi. Semisal birokrat, tokoh muda, ormas, LSM dan sudah seharusnya DPRD. Serba kebetulan, tidak adanya universitas bonafid menjadikan Cilacap miskin kritik dari birokrat. Padahal, kritik dari birokrat, disamping cenderung bersih dari kepentingan juga lebih ilmiah. Setelah itu, diharapkan keterbukaan pemkab untuk menerima sekaligus menindaknya.
Terlepas dari semua itu, merayakan ulang taun pasti dibarengi keinginan menjadi lebih baik ditahun berikutnya. Cilacap bakal disebut gagal, ketika tahun mendatang tidak lebih maju dari sekarang. Seandaninya sama dari tahun ini pun masih dalam kategori sebuah kegagalan. Itu merupakan kesepakatan sekaligus logika umum yang diterima semua kalangan. Akhirnya, selamat ulang tahun ke 152 dan meraih masa depan yang lebih Bercahaya dari sebelumnya. Semoga.
*) Penulis adalah Mahasiswa STAIN Purwokerto

Jumat, 08 Februari 2008

Bisikan Hati


Adikku, Tegarlah !!

Dik... Mungkin aku belum pernah merasakan ‘sakit’ yang tengah kau derita; patah hati. Kebanyakan dari mereka lebih suka menyebutnya, broken heart. Hanya keminggris saja. Toh. Aku pikir sama arti dan juga sakitnya. Aku hanya mendengar itu dari mereka, ‘para pecinta’. Yang entah sudah berapa kali patah hati sekaligus mematahkan hati. Mereka berbunga-bunga serta larut dalam ‘cinta’ dalam suatu waktu . Sesaat kemudian luruh, patah hati.
Konon, apapun sah dilakukan bagi mereka yang tengah patah hati. Menangis seharian, mengurung diri, berjalan kiloan meter tanpa kejelasan arah, mengumpat pada diri, sampai sumpah serapah pada ‘tersangka’ yang mematahkan hati. Seperti yang kau lakukan siang itu. Memang tidak ada yang tahu. Hanya kau, aku, pecahan ombak pantai Ketawang, Purrworejo dan tentu Sang Pemberi Rasa Cinta, Allah SWT.
“Dasar lelaki bengsek !!!”, kau mencoba berteriak. Kalimat pendek. Tetapi, terlihat bgitu berat beban patah hati yang mencoba kau buang. “Biarlah laut yang menanggung deritaku,” ucapmu lirih. Meski kau sepenuhnya sadar, teriakmu terlalu lirih untuk kalahkan pecahan ombak yang kuat menderu. Sejurus kemudian, kau biarkan tubuhmu lunglai, terjatuh diatas pasir yang tidak putih. Hempasan ombak kau biarkan menggerayangi tubuh mungilmu. Basah kuyub baju dan tubuhmu mungkin akan kembali segarkan pikiranmu.
Ritual sumpah serapah dan mandi air laut ternyata kau anggap belum cukup. Sembari duduk, memandang lepas ke tengah laut, ku temani kau mengikuti naluri kewanitaan; menangis. Tidak ada yang mampu aku lakukan. Selain mendengar deru ombak dalam sunyi dan melihat air mata gadis cantik disisiku. Mungkin inilah kesalahan besarku. Tidak punya waktu untuk mendengar semua keluh kesahmu. Hanya sebatas menerka. “Teruslah. Lakukan apapun yang kau mau. Buang semua sial yang mengonggok di dalam qolbu,” batinku meneriakimu.
Dik. Semoga, apa yang kau perbuat kemarin cukup membuat ringan beban itu. Ingat Abah, “Fal yadlhakuu qolilaa(n) wal yabkuu katsiroo(n)”. Kita memang harus mengurangi tawa dan memperbanyak tangis. Tapi, menangisi diri yang kotor akan dosa. Bukan karena (maaf) cinta. Bukankah Adik selalu bilang, ‘wadzambii zaaidun fi kulli yaumin’. Yang bertambah setiap hari dari kita adalah dosa ?. Padahal dunia ini fana (pasti akan musnah), sementara ada kemuliaan kekal yang harus diperjuangkan.
Terakhir, aku sampaikan pesan ‘para pecinta’. Semua yang terjadi dunia ini adalah sunatulloh. Ada susah-senang, musibah-berkah, tawa-tangis, termasuk jatuh cinta-patah hati. Bagi para pecinta, yang terpenting adalah belajar dari pengalaman dan mengambil hikmah. Hidup itu adalah belajar. Hakikat hidup bukanlah pada beragam cita-cita dan keinginan yang menyundul langit. Tetapi, terletak pada kesiapan kita menerima kenyataan, yang sering kali jauh lari dari impian. Jangan kau biarkan dirimu terus layu dalam semu. Segeralah bangkit dan bergerak menuju ridlo-Nya.

To. Adik cantik di Purworejo-Purwokerto
hidup itu indah. nikmatilah...

Bisikan Hati

Elegi Pesan Pendek
(Kado ulang tahun terindah)


Sungguh. Sesuatu yang kukenali sebagai cinta, muncul secara tiba-tiba di dalam diriku, menyergapku, memelukku, merasukiku, semua tanpa pernah kuasa aku tolak. Aku pasrah, tetapi bukan tidak berdaya.
(A. Wachid, BS dalam ‘Cinta itu Berkah bukan Musibah’)


“Bro...nyambung yang semalem. Emang bener kamu pengen serius ? terus kepengine cwe yang kaya apa ?”. Sebenarnya, aku tidak menyangka kamu masih tertarik untuk menyimak keluh kesahku. Ya. Aku teringat, saat malam beranjak larut pesan pendek permintaanmu aku kirim. “Bro..minta bantuan dunkz. Kamu kan jago bikin kata-kata neh. Tolong buatin ucapan selamat ultah buat ‘mantan’ sahabatku. Yang pendek tapi dalem,” begitu pintamu tanpa peduli perasaanku.
Sebenarnya, aku pengin banget protes. Kenapa ada kata ‘mantan sahabat’ dalam kamus hidupmu. Ah. Tapi segera aku urungkan niatan itu. “Mungkin maksudmu, mantan pacar,” batinku husnudzon, sebagai ganti protesku yang meletup di hati. “Siap. Tapi mungkin agak mleman, biar tak ‘meditasi’ dulu ya..?” jawabku sekenanya. Beruntung, kamu sepakat dengan tawaranku.
Serius aku minta maaf. Kalau ternyata ucapan ultah itu tidak pendek juga tidak dalem. Hanya kepengin kamu tahu. Malam itu, hatiku begitu capai. Bahkan super kalut. Kamu –cewe yang palig dekat- pasti mengerti banyak hal tentang diriku. Makanya aku merasa yakin cerita tentang kekalutan itu. Hati kecilku berkata, “Kali ini kamu benar-benar butuh (calon) pendamping. Tidak hanya skedar pacar !” jerit hatiku malam itu.
Aku agak kerepotan juga. Saat beragam pertanyaan meluncur dan menghujaniku melalui pesan pendek yang kau kirim. Terlebih lagi saat kau tanya syarat buat cewe yang pas dijadikan pendamping. “Nay.. ga pake beragam syarat. Yang penting nyambung, enak buat sharing, sederhana (low profile) , Tidak harus ngartis (cantik luare) dan syukur santri...”. Ah. Kenapa banyak sekali syaratnya. Memangnya aku sempurna. Bukankah “No body perfect (tidak ada orang yang sempurna)?,” begitu bunyi kalimat bijak, yang kian populer disitir artis yang hendak bercerai dengan pasangannya.
Kau memang sahabatku. Paling dekat, paling banyak membantu sekaligus paling mengerti aku. Dari jelek-baik, sampai kurang dan lebih. Bukankah kamu masih ingat bisikan kata dalam pesan pendekku.”Nay.. kamu ga’ perlu repot cariin pendamping. Tetapi doa tulusmu yang sangat ku harap...”. Dan kamu tahu, malam saat kau minta bantuanku, gadis ‘idaman’ itu berada di hadapanku. “Dia manis (bukan ngartis), dan sangat sederhana,” begitu pesan pendek yang ku kirim.
Terakhir, aku teringat apa yang diungkap Abdul Wachid BS, sang penyair itu. Mungkin aku tengah mencoba witing tresno; membangun pohon cinta. Bukan jatuh cinta. Katanya, jatuh cinta berarti cinta identik dengan nafsu binal yang rendah. Hanya akan ‘menjatuhkan’ mereka yang dimabuk cinta. Sedangkankan witing tresno, berarti cinta menjadi penyemangat sekaligus fondasi segala aktivitas. Yang indah, “Produktif Melalui Cinta”. Semoga.... amien.amien.amien.
El Fateh ‘01
Untuk Calon Pendampingku

CILACAP INSIDE

Mengembalikan Cilacap Bercahaya
Roedjito el Fateh*

Bersih dan elok,
rapi, ceria dan hijau.
Serta aman dan jaya ....

Untaian kata diatas adalah kepanjangan dari akronim ‘Bercahaya’. Slogan kabupaten Cilacap, yang dulu biasa saya –dan tentunya anak-anak sekolah yang lain- nyanyikan saat di bangku sekolah dasar (SD). Lagu ‘Cilacap Bercahaya’, begitu semangat kami nyanyikkan saat itu. Kini setelah berselang sepuluh tahun lebih, sudah sedemikian jarang lagu tersebut dinyanyikan. Tragisnya, hal itu juga berbanding lurus dengan kondisi Cilacap yang kian memprihatinkan. Setidaknya, itu terwakili dengan predikat daerah kabupaten/kota terkorup ketiga se-Jawa Tengah.
Sejatinya, prestasi seperti itu tidak perlu ada apalagi dikejar. Meski pada kenyataannya –dengan berbagai alibi- predikat tersebut menclok juga. Doa kami sebagai warga, mudah-mudahan itu hanya sebuah kebetulan, atau bahkan kesalahan. Sulit bagi warga Cilacap khususnya, mencari alasan untuk membenarkan predikat tersebut. Karena kenyataanya, jalan aspal sudah merambah hingga ke pedesaan misalnya. Padahal hanya ‘jalan gang’. Kalau memang terkorup, kenapa Pemda masih bisa ‘membuatkan jalan’ ? ataukah, kalau tidak terkorup, Cilacap (masyarakat bukan pejabatnya) bisa lebih sejahtera ketimbang sekarang ?
Kenyataan lain, justru terjadi pada jalan utama atau jalan raya. “Wah. Pasti sudah mulai masuk daerah Cilacap nih,” begitu kata teman saya, ketika sampai di perbatasan Banyumas-Cilacap. Tepatnya Cilacap Barat, wilayah Desa Tayem Timur, Kecamatan Karangpucung. Para pengguna jalan lebih mengenalnya dengan daerah wates (jawa: perbatasan). Bukankah ironis. Cilacap yang terkenal sebagai penghasil aspal dan berjubel kontraktor malah tidak bisa mengaspal daerahnya sendiri. Itu juga masih kata teman saya dan mencoba saya betulkan.
Jalan berlubang, mungkin hanya sedikit potret kondisi memprihatinkan. Selain itu, kalau hanya jalan rusak, pihak pemda akan dengan mudah menagkisnya. Toh, kenyataannya, jalur Karangpucung-Majenang (kawasan industri Gondorukem-Cimanggu) sudah sedemikian halus. Demikian juga Karangpucung-Sidareja sudah mulus. Bahkan mungkin anti banjir. Masalah lain ternyata sudah antre menunggu. Terbaru, ada delapan daerah rawan longsor khusunya di Cilacap Barat, dan tentunya daerah banjir yang juga sudah menjadi langganan, yakni Sidareja dan sekitarnya.
Beruntung. Tahun ini, sejauh musim hujan turun daerah Sidareja belum menunjukan geliat rawan banjir sebagaimana biasa. Tetapi, Cilacap Timur tidak sama selamatnya dengan Cilacap Barat. Lihatlah wilayah Kecamatan Kroya, tepatnya Desa Mujur Lor. Beberapa hari lalu, musibah banjir disana santer menghiasi layar kaca pemberitaan TV Nasional dan juga surat kabar.
Korupsi
Isu Cilacap sebagai wilayah terkorup ketiga, tampaknya lebih menarik. Tentu bisa dibayangkan, apabila Cilacap tidak menjadi wilayah terkorup. Pembangunan serta kesejahteraan kiranya akan lebih baik dari sekarang. Pernyataan mengejutkan justru keluar dari pihak legislatif (DPRD). Dewan mengaku tidak tahu –tepatnya tidak terima- dengan predikat itu. Mereka juga mempertanyakan sisi mana yang menjadikan Cilacap sebagai daerah terkorup. Padahal, dewan sebagai lembaga yang mengawasi kinerja eksekutif idealnya lebih dulu ‘menangkap’ itu.
Atas pernyataan tersebut, pantaslah kalau warga Cilacap menduga-duga. Ketidaktahuan itu, apakah karena kepandaian pelakunya (koruptor), memang tidak ada tindak korupsi, kinerja (pengawasan) yang dilakukan dewan masih jauh dari standar, atau ... ‘kemungkinan lain’. Kemungkinan lain (dengan tanda petik) itu, dibebaskan kepada pembaca budiman untuk melakukan eksplorasi sekaligus browsing (mencari) sebisa mungkin. Terlebih bagi warga Cilacap, yang cenderung ‘dekat’ dengan angota dewan. Setidaknya sebagai orang yang diwakili.
Cilacap Bercahaya
Meski terkesan tidak terlalu penting, saya sangat berharap masih bisa mendengar lagu ‘Cilacap Bercahaya’ sebagai ikon semangat kedaerahan. Semangat untuk menjadi lebih baik, tidak lagi terkorup, semangat untuk bangkit dan memberikan pelayanan sekaligus kesejahteraan bagi warganya. ‘Bersih’, kata pertama dalam ‘Bercahaya’ kiranya perlu diinterpretasikan lebih. Bukan hanya bersih kota dan atau wilayahnya dari sampah (kotoran kasat mata). Tetapi juga menyelenggarakan pemerintahan yang bersih, bukan malah menjadi terkorup.
Bersih dari kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan serta bersih dari aparat yang maniak korupsi. Kita baru bicara bersih !. Bayangkan betapa indahnya Cilacap, tatkala mampu menerapkan ‘bercahaya’, seperti wasiat sesanti kita. Tampaknya, Cilacap tidak lagi bercahaya, tetapi cahaya diatas cahaya (nuurun ‘alaa nuur). Semangat untuk bersih tampaknya bisa dimulai, karena Cilacap telah memiliki pemimpin ‘baru’. Tekadkan bersih dengan dukungan warga, jangan malah ‘membersihkan’ aparat yang tidak sendiko dawuh, dan bertindak sebaliknya.
Miris rasanya, ketika mendengar seorang guru yang wadul, “lagu Cilacap Bercahaya sudah lama tidak dinyanyikan” ujar seorang guru belum lama ini. Kalau saja anak-anak SD misalnya, masih berkesempatan menyanyikan lagu itu. Mereka berjajar sepanjang jalan sambil menyerukan Cilacap Bercahaya ketika menyambut bupati saat kunjungan. Disamping melestarikan lagu pembakar semangat, juga terdengar lebih ‘nggrentesake ati’ pak bupati . Setidaknya, itu lebih baik ketimbang hanya melambaikan bendera, sambil mengelu-elukan atau meneriaki (bukan memaki) nama bupati. Takutnya, malah dikira artis yang -hanya- akan memberikan hiburan alias buih janji.
Nasi memang telah menjadi bubur. Bukankah tidak mungkin, untuk melakukan hal sebaliknya. Yang terbaik –kata Aa Gym- bagaimana kita merubah bubur itu menjadi lebih nikmat. Semisal bubur ayam. Langkah tegas jajaran dewan melakukan klarifikasi, tabayyun terkait predikat terkorup itu, semoga saja menjadi bagian untuk membuat ‘bubur’ menjadi nikmat. Bukan memprotes apalagi memaksa mengembalikan ‘nama baik’ kabupaten Cilacap tercinta. Bagaimanapun, mengambil hikmah adalah langkah terbaik. Boleh saja, anggota dewan, bupati dan para penggede itu tidak hafal lagu Cilacap Bercahaya. Mereka cukup mendengar dan melakukan transformasi nilai (ghiroh) saat lagu itu dinyanyikan siswa SD, yang polos dan tanpa dosa. Itu bukan berarti yang tua terlalu banyak dosa. Hanya kurang terbuka menerima cela. Miskin koreksi diri apalagi kalau harus menerima dan menjadi penyalur aspirasi.

*) Penulis adalah Mahasiswa Komunikasi (Dakwah), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto, mantan wartawan koran lokal, asli Cilacap Barat. Sekaligus ‘ngalap’ ilmu di Majelis Tilawatil Qur’an (MTQ) ‘Al Husaini’ Purwokerto. Tulisan dimuat di Suara Merdeka, 17 Januari 2008