Jumat, 08 Februari 2008

Bisikan Hati

Elegi Pesan Pendek
(Kado ulang tahun terindah)


Sungguh. Sesuatu yang kukenali sebagai cinta, muncul secara tiba-tiba di dalam diriku, menyergapku, memelukku, merasukiku, semua tanpa pernah kuasa aku tolak. Aku pasrah, tetapi bukan tidak berdaya.
(A. Wachid, BS dalam ‘Cinta itu Berkah bukan Musibah’)


“Bro...nyambung yang semalem. Emang bener kamu pengen serius ? terus kepengine cwe yang kaya apa ?”. Sebenarnya, aku tidak menyangka kamu masih tertarik untuk menyimak keluh kesahku. Ya. Aku teringat, saat malam beranjak larut pesan pendek permintaanmu aku kirim. “Bro..minta bantuan dunkz. Kamu kan jago bikin kata-kata neh. Tolong buatin ucapan selamat ultah buat ‘mantan’ sahabatku. Yang pendek tapi dalem,” begitu pintamu tanpa peduli perasaanku.
Sebenarnya, aku pengin banget protes. Kenapa ada kata ‘mantan sahabat’ dalam kamus hidupmu. Ah. Tapi segera aku urungkan niatan itu. “Mungkin maksudmu, mantan pacar,” batinku husnudzon, sebagai ganti protesku yang meletup di hati. “Siap. Tapi mungkin agak mleman, biar tak ‘meditasi’ dulu ya..?” jawabku sekenanya. Beruntung, kamu sepakat dengan tawaranku.
Serius aku minta maaf. Kalau ternyata ucapan ultah itu tidak pendek juga tidak dalem. Hanya kepengin kamu tahu. Malam itu, hatiku begitu capai. Bahkan super kalut. Kamu –cewe yang palig dekat- pasti mengerti banyak hal tentang diriku. Makanya aku merasa yakin cerita tentang kekalutan itu. Hati kecilku berkata, “Kali ini kamu benar-benar butuh (calon) pendamping. Tidak hanya skedar pacar !” jerit hatiku malam itu.
Aku agak kerepotan juga. Saat beragam pertanyaan meluncur dan menghujaniku melalui pesan pendek yang kau kirim. Terlebih lagi saat kau tanya syarat buat cewe yang pas dijadikan pendamping. “Nay.. ga pake beragam syarat. Yang penting nyambung, enak buat sharing, sederhana (low profile) , Tidak harus ngartis (cantik luare) dan syukur santri...”. Ah. Kenapa banyak sekali syaratnya. Memangnya aku sempurna. Bukankah “No body perfect (tidak ada orang yang sempurna)?,” begitu bunyi kalimat bijak, yang kian populer disitir artis yang hendak bercerai dengan pasangannya.
Kau memang sahabatku. Paling dekat, paling banyak membantu sekaligus paling mengerti aku. Dari jelek-baik, sampai kurang dan lebih. Bukankah kamu masih ingat bisikan kata dalam pesan pendekku.”Nay.. kamu ga’ perlu repot cariin pendamping. Tetapi doa tulusmu yang sangat ku harap...”. Dan kamu tahu, malam saat kau minta bantuanku, gadis ‘idaman’ itu berada di hadapanku. “Dia manis (bukan ngartis), dan sangat sederhana,” begitu pesan pendek yang ku kirim.
Terakhir, aku teringat apa yang diungkap Abdul Wachid BS, sang penyair itu. Mungkin aku tengah mencoba witing tresno; membangun pohon cinta. Bukan jatuh cinta. Katanya, jatuh cinta berarti cinta identik dengan nafsu binal yang rendah. Hanya akan ‘menjatuhkan’ mereka yang dimabuk cinta. Sedangkankan witing tresno, berarti cinta menjadi penyemangat sekaligus fondasi segala aktivitas. Yang indah, “Produktif Melalui Cinta”. Semoga.... amien.amien.amien.
El Fateh ‘01
Untuk Calon Pendampingku

Tidak ada komentar: